Tuesday, April 28, 2009

Juru Masak Pertempuran by Kor Smirnov


Ya

Caleg Stres oleh Yono Suyono


Ya

Thursday, January 01, 2009

Temu Kartunis Nasional Pertama dan Terakhir


  • Kilas Balik Mengintip Dapur Redaktur Kartun Media Massa

  • Landasan Etika dan Estetika bagi Kartunis Indonesia


    Oleh Darminto M Sudarmo

    Peristiwa Temu Kartunis Nasional ini sebenarnya sudah berlangsung 23 tahun yang lalu. Namun mengingat semangatnya masih relevan hingga sekarang, tulisan yang bersifat kilas balik ini disajikan. Alasannya, waktu itu anggota Kokkang masih beberapa orang saja. Maklum Kokkang baru jalan tiga atau empat tahunan. Betapapun, kita perlu bersyukur, acara yang membuahkan pedoman profesional bagi para kartunis Indonesia itu sempat berlangsung; karena hingga kini pun peristiwa yang penting dan berorientasi peningkatan mutu kartunis Indonesia itu tak pernah ada yang menyelenggarakan lanjutannya.
    Ide untuk mengumpulkan para kartunis seluruh Indonesia di suatu tempat untuk kemudian beromong-omong, bermula dari kasak-kusuk dan keisengan belaka. Tak terduga setelah timbul kesepakatan dari sementara kartunis yang ada di Semarang, gagasan yang sesungguhnya bakal banyak memakan dana dan energi itu terselenggara cukup mulus.
    Mungkin banyak yang tak tahu, bahwa upaya yang telah dicurahkan oleh penyelenggara dan proses perjalanan realisasinya penuh dengan jalan berliku dan terjal. Dari soal perizinan, dana dan sebagainya, total saling belit-membelit.
    Sehingga tak aneh bila rencana penyelenggaraan mengalami berkali-kali pengunduran. Diperkirakan banyak peserta yang putus asa, sehingga meskipun mereka secara resmi telah mendaftarkan diri, pada hari ‘H’-nya tak kelihatan batang hidungnya.
    Kendati demikian, secara keseluruhan, peristiwa yang sesungguhnya bukan cuma ‘hura-hura’ ini berlangsung dengan baik. Bahkan telah menelorkan serentetan rumusan sementara yang bisa dijadikan titik tolak bagi para peserta. Rumusan tersebut memang sengaja digumpal-gumpalkan sebagai penjabaran dari berbagai aspek yang selama ini dianggap masih samar posisinya.
    Persoalan etik dan estetika ramai dipergunjingkan. Bahkan topik yang dipesankan penyelenggara sempat berkembang ketika dilempar ke khalayak peserta karena kecerdikan para pembicaranya.
    Akhirnya terpanalah kita. Ternyata banyak hal yang harus dikaji oleh para kartunis, redaktur kartun dan para pengamat humor umumnya, jika mereka menghendaki kartun bisa hadir dan memperoleh penghargaan yang semestinya sebagaimana karya cipta seni yang lain.

    Latar belakang
    Mengapa temu kartunis nasional harus diadakan? Banyak alasannya. Pertama, bersumber dari keresahan sementara kartunis yang risau melihat perkembangannya dewasa ini cenderung naif dan kurang orientasi. Artinya, terdapat semacam citra yang konyol dari para pekerja kartun itu sendiri. Yakni bahwa mengartun ya cuma mencoret-coret gambar lucu (yang dianggap lucu) dengan tema-tema yang juga itu-itu saja.
    Padahal kartun, baik kemunculannya sebagai gag cartoon, editorial cartoon atau political cartoon (karikatur?), yang harus melucu sambil membawa gunjingan-gunjingan moment atau peristiwa yang aktual, topikal dan faktual, maupun yang berlucu-lucu dengan topik kemanusiaan yang universal, tetap harus memperhatikan sisi teknis (drawing), sisi informatif, edukatif dan sebagainya.
    Aspek-aspek ini bila digarap dengan jeli, bukan mustahil bila nantinya karya kartun bakal memperoleh penghargaan yang semestinya. Selain aspek idea, tentunya merupakan salah satu sisi yang mutlak harus tampil pada kartun yang berhasil. Sebagai bukti kerja kretif sang kartunisnya.
    Kedua, bila para pekerja kartun itu sendiri dijangkiti penyakit latah yang kurang menguntungkan posisi kartun, maka pelan tapi pasti masyarakat pun akan berkecenderungan menilai serupa. Lebih-lebih bila fakta secara kuantitatif memang menunjukkan hal itu.
    Maka jalan menghapus kesan tak sedap yang mungkin telah timbul atau bakal timbul dari para penikmat, adalah dengan mengadakan acara pertemuan seperti tersebut di atas. “Siapa lagi yang bakal memperjuangkan kalau bukan para kartunisnya sendiri?” ujar Arswendo Atmowiloto, sebagai salah seorang pembicara, yang kemudian disambut oleh peserta.
    Ketiga, kartun sebagai karya grafis memang paling kena bila dilempar ke penikmat lewat media massa (koran atau majalah). Karena sasaran yang hendak dituju memang pembaca seluas-luasnya.
    Di dalam setiap media massa yang memuat karya kartun, umumnya berdiam seorang atau lebih “hakim” yang disebut redaktur kartun atau humor. Sayangnya sang redaktur ini manusia. Meskipun telah berusaha semaksimal mungkin bertindak obyektif, sekali dua kali atau bahkan berkali-kali bisa saja bertindak sebaliknya.
    Tuduhan demikian memang meruncing di kalangan kartunis yang merasa karyanya tak pernah lolos atau sedikit sekali yang bisa lolos sensor redaksi. Lalu muncullah ‘umpatan-umpatan’ tak sedap yang dialamatkan kepada mereka (para penjaga gawang kartun). Yang bego-lah, yang koncoisme dan sebagainya. Ternyata indikasi demikian bukan hanya dialami redaktur yang menangani bidang-bidang yang lain. Jadi lumrah.
    Maka lumrahlah pula, bila banyak peserta yang akhirnya bertanya. Kartun yang baik itu yang bagaimana sih? Para panelis yang kebetulan berposisi sebagai redaktur akhirnya menjawab dengan berbagai versi menurut kepintaran yang dipunyainya. Meskipun tak menutup kemungkinan munculnya jawaban yang digagah-gagahkan.
    Kendati demikian, tiga orang pembicara, Pramono, GM Sudarta dan Harso Widodo yang setidaknya telah cukup lama bergelut dan berkumpul kebo dengan kartun sempat memberikan jawaban yang setidaknya bisa dijadikan pegangan para kartunis pula.
    Menurut Pramono, kartun yang baik adalah tipe kartun yang disenangi oleh pembaca dari berbagai latar belakang pendidikan, suku, status sosial, dan sebagainya. Misinya sampai, meskipun sekadar melucu.
    Hampir senada, GM Sudarta menjawab bahwa kartun yang baik adalah kartun yang lucu dan bagus.
    Pengertian bagus tentu saja ada norma-normanya. Sementara Harso Widodo (dahulu redaktur humor Tabloid Mutiara), memberikan jawaban kartun yang baik adalah kartun yang universal dan mampu menggelitik redaksi. Ini pun tidak harus disalahkan, karena subyektivitas (yang normatif) akan menghasilkan suatu media yang berciri khas masing-masing media yang diasuhnya. Dan itu juga perlu.
    Keempat, timbulnya gejala dan mode jiplak-menjiplak ide dari kartunis lain (atau mungkin memang kebetulan sama ide), tak kurang merupakan salah satu bagian etika yang perlu dipertanyakan. Sebab gaya tuduhan-tuduhan dari masing-masing kartunis yang merasa dirugikan sering hadir di meja redaksi atau surat pembaca. Siapa yang harus jadi penengah bila ada kasus demikian? Atau mungkin hakim?
    Arswendo Atmowiloto yang dapat bagian tugas membahas sekitar kartun dan hak cipta, mengatakan bahwa hak cipta tentang kartun tak terdapat dalam undang-undang hak cipta. Ini memang aneh, karena ilustrasi, gambar-gambar peta bumi dan sebagainya sudah masuk dan disebutkan secara jelas. Mungkin karena apresiasi para cerdik pandai ini belum sampai pada yang namanya kartun, karikatur, maupun yang sejenisnya.
    Kendati demikian, kartun termasuk karya cipta. Dengan sndirinya mempunyai hak cipta, sebagaimana tercantum dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 6 (enam) tahun 1982. Sebab semangat dan isinya terkandung dalam cabang kesenian yang bisa dilipat gandakan, bisa dinikmati dan dilihat orang lain (pasal 1). Lebih khusus lagi, kartun termasuk dalam ‘segala bentuk seni rupa’ (pasal 11).
    Dengan demikian, sebenarnya kartun bisa diwariskan, dihibahkan, diwasiatkan, dan dijadikan milik negara (pasal 3). Akan tetapi pertanyaan yang lebih pokok dari itu ialah, apakah bentuk kooperasionalnya memungkinkan bagi para kartunis?
    Kelima dan seterusnya, adalah keresahan-keresahan sekitar kemungkinan-kemungkinan adanya alternatif lain yang bisa dijadikan semacam tumpuan untuk menyelamatkan karya kartun dari kepunahan. Karena yang tak lolos sensor redaksi, lebih banyak masuk keranjang sampah lalu lenyap, dimusnahkan.
    Dapat juga misalnya menerbitkan sebuah bentuk kumpulan sebagaimana yang telah pernah dilakukan oleh GM Sudarta dan Pramono.
    Juga persoalan memasarkan karya kartun, yang cenderung bergantung pada salah satu atau dua media massa, serta harus antre dan bersaing secara keras. Bekerja sama dengan para pengiklan, pembuat film, atau pun menjual pada badan semacam ‘syndicate’ yang mampu memasarkan kartun ke seluruh dunia.
    Sehingga tak aneh bila seorang kartunis bisa memperoleh honor dari berbagai media untuk sebuah karyanya, adalah alternatif-alternatif yang tak terlalu berlebih. Pada saatnya bila kondisi telah memungkinkan, hal semacam itu bukan merupakan hal yang mustahil.
    Memang pada jangka pendek ini, upaya pertama-tama yang bisa dilakukan adalah menghimbau sehormat-hormatnya pada para pemilik media massa agar mau sedikit berbaik hati membuka selayaknya rubrik tempat para kartunis Indonesia berkarya dan berkreasi.

    Kilas Balik
    Temu Kartunis Nasional I (dan terakhir?) yang berlangsung tahun 1985 lalu, yang telah menelan waktu selama dua hari dua malam itu boleh dikatakan cukup sukses. Diikuti tak kurang dari 125 peserta, dari berbagai penjuru nusantara. Menampilkan tak kurang dari tujuh orang pembicara baik dari kalangan pengamat, kartunis, maupun redaktur humor.
    Mereka antara lain: GM Sudarta (Kartunis Kompas), Pramono (Kartunis Sinar Harapan), Arswendo Atmowiloto (pengamat), Drs. Herry Wibowo (Dosen STSRI), dan panelis redaktur yang terdiri dari: Harso Widodo, Singgih Budiyono (Sarinah), dan Hanafi (Minggu Ini – Suara Merdeka).
    Acara berlangsung di Balai Wartawan Kompleks GOR Semarang, 20-21 September 1985 lalu. Sementara penyelenggara yang berdiri di belakang acara tersebut adalah ‘gerombolan’ kartunis yang terhimpun dalam Pertamor (Perhimpunan Pencinta Humor), Secac (Semarang Cartoon Club), Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu), Wak Semar (Wadah Kartunis Semarang), dan Pokal (Padepokan Kartunis Tegal).
    Setelah melewati serangkaian diskusi dan dialog yang gayeng dan khas (sebagaimana laiknya bila orang-orang edan, eh, suka humor berkumpul), maka team perumus Temu Kartunis Nasional ’85 telah sepakat menelurkan ancar-ancar yang dimaksudkan sebagai landasan ber-etik dan berestetika, serta titik tolak para kartunis guna menyongsong prespek-prospeknya di masa mendatang.
    1. Proses penikmatan/pemahaman akan sebuah karya kartun, membutuhkan kecerdasan seseorang penikmat, apalagi dalam proses penciptaan karya kartun. Untuk ini para kartunis perlu melakukan introspeksi, terutama yang menyangkut masalah penyusunan kode etik perkartunan, serta upaya peningkatan pemahaman akan aspek-aspek yang berkaitan dengan kartun.
    2. Peningkatan pemahaman akan aspek-aspek yang berkaitan dengan kartun, mencakup pemahaman akan kondisi sosial budaya, humor, persepsi kualifikasi dan aktualitas pokok-pokok permasalahan.
    3. Perlunya proses integralisasi pendayagunaan kartun dengan kepentingan media massa, di mana tercakup di dalamnya permasalahan-permasalahan dan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis, strategis, serta komoditif.
    4. Dari penyelenggaraan Temu Kartunis Nasional ’85, terasa ada kecenderungan kuat dari para kartunis untuk menghimbau berbagai media massa guna membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi kehidupan kartun. Meski selama ini oleh beberapa redaktur kartun dari berbagai media massa mengungkapkan prospek yang cerah dari kehidupan kartun.
    5. Perlunya komunikasi dan kondisi antar kartunis dengan berbagai upaya penerbitan buletin, brosur, majalah dan lain-lain. Barangkali perlu juga diciptakan suatu strategi pemasaran kartun bersama melalui wadah ‘syndicate’ dan lain-lain.
    6. Dari Temu Kartunis Nasional ’85 di Semarang yang pertama kali ini timbul inisiatif bersama dari para kartunis, untuk mentradisikan Temu Kartunis Nasional dan Pameran Kartun Nasional setiap setahun sekali dan diselenggarakan di berbagai kota di seluruh kawasan nusantara secara bergantian menurut mufakat bersama.
    Masalahnya yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah persoalan target. Sebab setahun sekali bukan waktu yang terlalu lama untuk menunggu munculnya isyu-isyu baru yang lebih segar dan berbobot. Kendati demikian, kita selalu berharap mudah-mudahan para kartunis bisa lebih membuktikan dengan karya-karya besarnya yang mampu membawa guna bagi masyarakat dan negara.
    Bulan September adalah saat jatuh hari ‘H’ Temu Kartunis Nasional kedua. Namun demikian kenyataan yang terjadi justru suasana yang sepi. Surabaya pernah menyanggupkan diri untuk jadi tuan rumah, tetapi merealisasi gagasan itu ternyata bukan persoalan yang gampang.
    Karena itu semoga bukanlah suatu hal yang berlebihan bila “Dialog Kartun di UNDIP” pada tahun 1994 yang menghadirkan pembicara Dwi Koendoro dan Jaya Suprana setidaknya mampu menjadi obat lain dari kegersangan realisasi dan inovasi Temu Kartunis yang pernah dicetuskan dengan gegap-gempita dan penuh semangat kemudaan, waktu itu. Semoga pula dapat menjadi referensi, khususnya bagi kartunis Kokkang maupun para peminat kartun di mana saja.

    Darminto M Sudarmo, penulis dan pengamat humor.

    Catatan:
    Harso Widodo dan Hanafi sudah almarhum, namun pikiran dan gagasan mereka tentang kartun, khususnya; tetap kita kenang sebagai mutiara yang sangat berharga bagi para kartunis Indonesia.

Tuesday, December 16, 2008

Kekerasan Terhadap Anak, Karya Ifoed


Waktu 60 Menit, Mengantarkanku Jadi Juara

Tanggal 12 November 2007, hari itu aku benar-benar sibuk, pagi itu deadline pekerjaan pembuatan komik iklan untuk majalah anak. Profesiku adalah kartunis, selain menjadi kartunis freelance aku juga menjadi konsultan desain visual untuk beberapa lembaga asing di Jakarta. Walaupun menjadi kartunis bukan cita-citaku, tapi sekarang aku sangat menikmati pekerjaanku ini. Di KTP aku tulis pekerjaan: Kartunis. Aku merasa bahwa profesi kartunis itu sama dengan profesi-profesi yang lain, walaupun masih belum umum bagi masyarakat di sini. Hampir separuh hidupku aku jalani menjadi kartunis. Suka duka menjalani profesi kartunis sudah aku rasakan, lebih banyak sukanya daripada dukanya.
Aku juga pernah bekerja sebagai kartunis tetap di majalah Humor dan majalah anak Ina. Tahun 2000 aku mendirikan Communicartoon studio, sebuah usaha di bidang jasa yang menangani beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan humor, kartun dan desain grafis. Hasil karyaku berupa ilustrasi, komik kartun, iklan untuk majalah dan koran, karikatur, kartun, cover buku, dan karya desain grafis. Puncaknya ketika aku dipercaya untuk membuat sebuah film animasi berdurasi 1 jam.
Waktu menunjukkan pukul 08.20 WIB, aku kirim materi iklan yang sudah selesai aku kerjakan untuk majalah anak melalui internet ke klien. Teknologi internet banyak membantu dalam hal pekerjaanku, terutama mengatasi waktu yang sangat terbatas dalam pengiriman hasil karya ke klien. Dengan internet pula praktis aku lebih banyak bekerja dan ngantor cukup di rumah. Aktivitasku setelah bangun tidur dan sholat subuh, aku bisa langsung bekerja dalam kondisi fresh. Kantornya km 0. Sebuah impian yang menjadi kenyataan sekarang ini.
Lega rasanya setelah melewati deadline pertama hari itu. Karena sejak beberapa hari lalu aku mengerjakan iklan tersebut. Perasaan lega ternyata cuma sebentar, karena hari itu juga deadline lomba karikatur KOMNAS HAM tingkat Nasional dengan tema kekerasan anak. Adrenalinku kembali terpacu waktu melihat pengumuman lomba tersebut.
Informasi lomba sebenarnya sudah lama aku peroleh, namun karena pekerjaan yang lumayan banyak waktu itu, menjadikan aku belum fokus membuat karya untuk lomba Karikatur KOMNAS HAM tersebut.
Rasanya sudah cukup lama lomba karikatur semacam ini tidak diadakan di Indonesia, makanya ketika tahu informasi ada lomba tersebut, dengan semangat 45 aku sangat menggebu-gebu ingin ikut menjadi peserta lomba tersebut. Bagiku ikut lomba salah satu tujuannya adalah untuk menguji kemampuan, kalaupun menang atau kalah adalah hal yang tidak terlalu aku pikirkan. Itu hanya efek sampingan saja. Yang penting aku berkarya sebaik mungkin dan optimis. Aku suka bilang ke teman-temanku ”Menang dalam suatu lomba itu urusan nomor 5.......urusan 1 sampai 4 itu nggak ada, he-he-he!”
Kembali aku cerita ke persiapan lomba. Untuk lomba waktu itu seperti biasanya aku selalu mencari bahan untuk ide sesuai dengan tema lombanya. Ide lomba aku cari dari koran, majalah, buku kartun juga di internet. Setelah ide-ide cukup aku dapatkan, baru aku eksekusi menjadi visual atau gambar dalam bentuk sket terlebih dahulu.
Aku merasa beberapa ide yang sudah aku dapatkan rasanya belum cukup pas dan sreg. Sampai pagi hari, ide yang aku anggap cukup kuat baru ada satu, untuk nambah ide lagi rasanya sudah buntu kepala ini. Mendengar bunyi detak jam dan suara degup jantungku rasanya seperti dikejar waktu yang semakin mendekati finish.
Pagi itu aku sempat telepon panitia lomba, menurut panitia deadline pengiriman sampai jam 16.00 WIB. Selesai telepon panitia aku langsung menghitung waktu efektif yang ada sekarang, waktu untuk untuk bikin gambar dan waktu untuk pengiriman. Praktis hari itu hanya tinggal ada waktu 6 jam yang harus aku manfaatkan dengan baik. Untuk membuat gambar aku butuh waktu kurang lebih 3,5 jam, sisanya untuk pengepakan karya dan pengiriman.
Setelah berdoa aku langsung visualisasikan idenya. Waktu menggambar rasanya hati ini yakin dan mantap betul. Dalam pikiranku hanya ada satu fokus: selesaikan segera dan kirim. Bekerja di bawah tekanan deadline membuat adrenalin dalam tubuhku mengalir cukup deras. Aku bersyukur dulu pernah bekerja di media massa kurang lebih 10 tahun, di situ aku bener-benar digembleng bekerja dengan tekanan dead line yang cukup ketat. Hasilnya sekarang aku terbiasa untuk lebih tenang dalam situasi tertekan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Dan hari itu aku merasakannya, walaupun tegang namun aku masih bisa mengontrol urat-urat tanganku dalam setiap tarikan kuas dan pensil yang aku torehkan di atas kertas. Aku berusaha membuat karya terbaik. Satu kali sempat aku gagal dalam menyelesaikan karikaturnya, kemudian aku membuat lagi dan aku anggap karya yang ke dua itu sudah pas dengan ide dan visualnya.
”Mak Plong” rasanya hati ini ketika aku menuliskan namaku di karya tersebut, sebagai tanda karya sudah selesai. Tugas selanjutnya adalah menyiapkan persyaratan lomba dan memasukan bersama karya ke dalam amplop untuk dikirim. Praktis hanya satu karya yang bisa aku kirim hari ini. Walaupun cuma satu karya tapi hati rasanya pede sekali waktu mengirimnya. Pukul 14.30 Wib semua siap untuk dikirim. Pengiriman rencananya akan aku antar langsung ke panitia lomba. Lewat pos atau kurir rasanya nggak mungkin sampai sore itu.
Aku tinggal di wilayah Bintaro, perkiraanku butuh waktu 1,5 jam untuk sampai di Kantor KOMNAS HAM di Menteng Jakarta dengan mengendarai sepeda motor.Bagiku sepeda motor adalah sarana transportasi yang paling bisa diandalkan untuk mengejar waktu. Di Jakarta yang serba semrawut dan macet, pilihan menggunakan kendaraan sepeda roda dua ini adalah pilihan yang pas untuk mobilitas yang tinggi dalam membantu kelancaran pekerjaan. Dengan berkendaraan bermotor masalah waktu tempuh pun masih bisa kita perkirakan dengan tepat. Tidak salah lagi pilihanku pada siang hari itu untuk mengantar karya lomba tersebut dengan naik sepeda motor. Perjalanan menuju kantor KOMNAS HAM siang itu tidak terlalu banyak hambatan, kalaupun ada kemacetan di jalan adalah hal biasa di Jakarta, dengan sepeda motor aku bisa menerobos kemacetan dengan lebih cepat.
Tepat pukul 15.30 Wib sampailah aku di Kantor KOMNAS HAM tepatnya di jalan Latuharhary Menteng. Perjalanan dari rumahku sampai kantor KOMNAS HAM aku tempuh selama 60 menit. Dari deadline panitia yang sudah ditentukan masih ada waktu 30 menit untuk menyerahkan karya ke panitia.
Di kantor panitia ternyata ada beberapa teman-teman kartunis lain yang juga baru mengirim karya sore itu. Rupanya kebiasaan kirim lomba pada detik-detik terakhir itu juga mewabah di kalangan para kartunis. Lagi-lagi ”Mak Plong” rasanya hatiku ketika menyerahkan amplop coklat yang berisi karya lomba ke panitia lomba.
Di panitia lomba beberapa teman kartunis bertanya ke padaku ” Amplopnya tebel banget, pasti kirim gambarnya banyak, ya...” Aku hanya tersenyum, padahal karya cuma satu, tapi aku kemas dengan melindungi karya tersebut dengan sterofoam, jadi kelihatan amplopnya tebal. Aku mengucapkan syukur Alhamdulillah. Sekarang tinggal menunggu hasil pengumuman lombanya.
Pada 30 November 2007, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan buatku, sore tadi aku mendapat telepon dari kantor KOMNAS HAM dari panitia lomba karikatur, mereka menyampaikan berita kalau aku keluar sebagai juara I dalam lomba karikatur tersebut. Aku mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah kepada Allah atas anugerah ini.
Malam harinya aku menerima telepon dari teman-teman yang memberi ucapan selamat atas keberhasilanku, rupanya pengumuman hasil lomba juga sudah ditayangkan di website KOMNAS HAM sore itu.
Keberhasilanku kali waktu itu adalah berkat ihktiarku yang maksimal, doa dari orang tua juga dari keluargaku dan pertolongan dari Allah. Sebagai juara I aku berhak mengantongi hadiah uang 10 juta. Aku senang dan bangga dengan hasil yang telah aku capai, setelah menyisihkan seluruh peserta lomba dari segala penjuru negeri dan meyakinkan dewan juri untuk memilih karyaku sebagai yang terbaik di antara yang baik.
Hari itu menjadikan diriku semakin yakin dan mantap dengan profesiku sebagai kartunis, dan koleksi penghargaanku juga semakin bertambah. Ketika aku melihat ke luar jendela, kulihat sepeda motorku di teras rumah. Dalam hati aku berkata ”Walaupun wujudmu cuma benda mati tapi di mataku kau adalah sahabat sejatiku. Terima kasih sahabatku, perjalanan 60 menit kemarin telah menghantarkan aku menjadi seorang juara.”

Ifoed, Kartunis Kokkang tinggal di Tangerang.

Friday, December 05, 2008

Dompet Sanggar Kokkang!




Dalam usianya yang ke 26 (versi real time: 27 tahun) kas Kokkang telah terkumpul lumayan mengagetkan, yakni Rp10.000.000 (baca: sepuluh juta {bukan dollar AS} tapi rupiah). Sebuah jumlah yang sangat suci karena ia tercipta dari cucuran keringat dan kerja keras anggota Kokkang sekian tahun. Padahal, Kokkang bercita-cita dapat membangun sebuah bangunan di suatu tempat di wilayah Kaliwungu, Kendal, Jateng, yang di dalamnya dapat berfungsi sebagai:
1. Sarana belajar calon anggota baru – semacam sanggar belajar mengartun
2. Sarana penyelenggaraan workshop kartun yang dapat mendatangkan orang-orang ahli dari luar Kokkang
3. Sarana penyelenggaraan seminar/diskusi tentang kartun, karikatur, kesenian atau kebudayaan dalam arti seluas-luasnya
4. Sarana penyelenggaraan pameran kartun bagi anggota Kokkang maupun di luar Kokkang
5. Sarana kegiatan mengartun para anggota Kokkang 24 jam sehari semalam open house
6. Sarana penginapan sekadarnya bagi para kartunis atau tamu dari luar Kaliwungu Kendal dalam konteks Kokkang mengundang atau memerlukan kunjungan tamu tersebut
7. Sarana penyelenggaraan perpustakaan manual/digital tentang kartun/humor/dan produk referensi seni/budaya lainnya
8. Sarana penyelenggaraan produksi merchandize atau gift yang dapat dikoleksi pengunjung; seperti kaos, buku, gantungan kunci, mug, payung, tas, selampe, sandal dan lain-lain benda souvenir yang berbasis desain kartun
9. Sarana penyenggaraan laboratorium informasi Kokkang meliputi: media cetak, media elektronik dan media cyber (internet)
10. Sarana penyelenggaraan sekretariat Kokkang dalam pengertian sefungsional-fungsionalnya.
Untuk dapat mengakomodasi proyeksi Sanggar Kokkang tersebut, paling tidak diperlukan: tanah di tempat yang strategis (dekat jalan raya atau jalan kota) kurang lebih 500 hingga 800 m2. Bangunan-bangunan yang diprioritaskan meliputi: a) bangunan utama; b) bangunan depan/joglo/gazebo; c) bangunan kanan dan kiri; d) bangunan belakang; e) tempat parkir; f) tata taman/eksterior dan lain-lain. Ruang-ruang dalam bangunan berfungsi untuk: ruang tamu/joglo; ruang belajar/sanggar belajar; ruang pameran/ruang diskusi; ruang kerja kartunis; ruang workshop; ruang perpustakaan; ruang laboratorium informasi; ruang produksi benda-benda souvenir; ruang jualan souvenir; ruang penginapan; ruang sekretariat Kokkang dan lain-lain. Properti yang dibutuhkan meliputi: meja, kursi, almari, perlatan komputer, penerangan, tikar, tempat tidur untuk penginapan, rak-rak buku dan lain-lain untuk perpustakaan, peralatan pameran/partisi/tata lampu karya, catu daya listrik minimal 2200 wtt hingga 5000 wtt, rest room/kamar mandi dan toilet (3 unit) dan lain-lainnya.
Memang cukup kompleks dan ambisius, karena secara pariwisata sosok Kokkang juga cukup fenomenal dan dikenal masyarakat dari luar Kaliwungu; tetapi popularitas Kokkang yang telah membebani image para anggotanya, termasuk sebagai komunitas yang berpikir lokal beraksi global, proyeksi tersebut di atas masih dalam taraf yang wajar dan belum ugal-ugalan. Kalau misalnya proyeksi itu diharapkan terealisasi maksimal tahun 2010, maka estimasi biaya yang diperlukan berkisar antara 350 juta hingga 500 juta rupiah. Minimal kekurangan 340 juta atau maksimal 490 juta rupiah, karena di opersional Kokkang telah tersedia sedikitnya 10 juta rupiah.
Upaya untuk mendapatkan dana yang “tidak begitu banyak” itu dapat ditempuh dengan beberapa cara sebagai berikut:
1. Seluruh anggota Kokkang (termasuk Ketua dan Pembina; di Kaliwungu maupun di tempat lain) diwajibkan membuat lukisan di atas kanvas dengan cat minyak atau akrelik yang berbasis ide kartun. Seluruh karya itu kemudian dipamerkan (minimal di Semarang atau di kota-kota besar lain di Indonesia) kemudian setelah selesai pameran, seluruh karya itu dilelang dan hasil penjualan lelang setelah dipotong administrasi operasinal penyelenggara dimasukkan ke kas Kokkang untuk deposit anggaran pembangunan Sanggar Kokkang.
2. Melakukan kerja sama dengan Industri Batik Pekalongan yang pernah tertarik untuk mengakomodasi desain kartun dalam motif batik tulis/cetak sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Sdr. Masturi Safaat awal Desember 2008 lalu.
3. Menunggu datangnya angin sorga dari “Orang Gila” yang tajir banget sehingga mau membantu sebagai donatur tak mengikat dalam pembangunan sanggar Kokkang dan namanya akan diukir dalam memorabilia Kokkang secara abadi sebagai pahlawan bagi kartunis Kaliwungu atau Kokkang. Atau “Orang Gila” itu seorang hamba Allah yang rendah hati dan tak ingin namanya diketahui orang banyak. Beliau hanya ingin membantu dan itu semata-mata demi mendapatkan Ridha Allah.
4. Menyiapkan proposal pengajuan bantuan kepada fund-fund atau foundation (dalam negeri atau luar negeri) agar dapat diberi pinjaman atau bantuan berupa “Grand” (tidak mengembalikan karena bersifat hadiah/bantuan) dan bukan “Loan” (yang harus mengembalikan, karena bersifat utang).
5. Mengajukan proposal kepada industri-industri kreatif terkait yang relevan dengan kompetensi dan kapabilitas Kokkang sebagai komunitas yang memiliki banyak tenaga kreatif di bidang desain, sinema (kartun), ilustrasi dan lain-lain jasa yang berkaitan dengan produk karya kartun. Sharing apa yang dapat dilakukan Kokkang sehingga mendapatkan umpan balik berupa “dana massal” karena kontribusi Kokkang pada industri tersebut.
6. There is a will, there is a way, itu kata peribahasa berbahasa keriting yang artinya, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Nah kita tunggu apakah benar otak kartunis Kokkang memang selalu dipakai atau dibiarkan buncret tergilas ganasnya zaman; cobalah tulis gagasan kalian (termasuk buatlah desain Sanggar Kokkang yang baru dan beda dari yang termuat kali ini), segila dan senaif apapun yang namanya gagasan selalu penting; karena ia akan memicu datangnya gagasan lain yang ternyata menjadi solusi jitu bagi persoalan kita bersama. Sekian semua gagasan itu dapat dikirim ke email kolomnis@gmail.com atau ke email saya langsung. Semoga Tuhan selalu membimbing dan memberi jalan keluar bagi keinginan dan cita-cita kita. Insya Allah.
Salam kreatif,
Gus Dar, Ketua Dewan Syuro Kokkang eh, pembina Kokkang
darmintomsudarmo@yahoo.co.id

Thursday, December 04, 2008

26 Tahun Kokkang, Bukan Sekadar Penggembira


BAGI pembaca awam yang sering menjumpai inisial Kokkang di bawah sebuah gambar kartun di berbagai media cetak (ibukota maupun daerah) mungkin sering bertanya-tanya, penanda apa kata Kokkang itu? Kokkang adalah sebuah kelompok atau paguyuban kebudayaan yang berarti Kelompok Kartunis Kaliwungu, berlokasi di sebuah kota Kecamatan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Para pengamat acapkali melihat kiprah Kokkang dari kaca mata romantisme dengan pengharapan yang sangat berlebih. Belasan tahun yang lalu, GM Sudarta pernah menyinggung Kokkang di Majalah Prisma dan melihat keunikan komunitas ini yang menebar di berbagai kampung dan bahkan dari satu keluarga terkadang dijumpai dua atau tiga kartunis sekaligus. Belum lama, Jaya Suprana, penyebar wabah humor di Semarang pada tahun 80-an, juga bertanya dengan nada khawatir kalau-kalau eksotisme Kokkang sudah larut oleh kikisan waktu dan berakhir dengan kepunahan; artinya, romantisme Kokkang yang unik itu, tak ada lagi. Sementara itu, tak kurang dari sekian puluh media cetak (koran/majalah) maupun TV yang telah mengekspose dan memprofilkan apa dan siapa di balik paguyuban yang hingga kini tetap survive itu dengan pendekatan yang sama: romantisme sebuah warisan budaya yang masih hidup.
Semua respon itu sungguh besar artinya bagi Kokkang. Terutama kaitannya dengan interaksi budaya yang bisa ditumbuhkan dan dilestarikan bagi lingkungan sekitar. Namun dalam perjalanannya yang sudah 26 tahun (bulan Mei ) tahun 2008, Kokkang tak sadar telah terjebak pada putaran arus untuk tetap menjadi eksotis dan naif guna memberikan kegembiraan bagi pihak luar yang mengherani keanehan maupun keunikan-keunikannya. Semacam heritage yang dipaksakan. Mengapa demikian? Karena pilihan itu mengandung konsekuensi yang cukup siginifikan bagi para pelaku (kartunis) yang berkiprah di dalamnya; sementara itu fakta di luar tak bisa dielakkan, lahan untuk berkarya para kartunis makin menyurut kendati jumlah media cetak secara kuantitas justru makin berlimpah. Kekhawatiran yang bisa timbul adalah Kokkang akan bubar dan warisan budaya itu tinggal kenangan bila tak ada lagi media massa/cetak yang menyediakan diri untuk ekspresi mereka. Ini artinya, pendekatan romantisme acapkali melupakan siklus kehidupan yang sangat vital antara proses berkarya dan sesudahnya.
Selain melihat Kokkang dari kaca mata eksotisme tadi, akan lebih sehat, jika kita juga melihat Kokkang sebagai sebuah realitas komunitas yang di dalamnya terdiri atas individu-individu yang perlu berkembang dan mandiri. Artinya, individu-individu itu memerlukan semacam “jaminan” bahwa dengan pilihannya itu (menjadi kartunis) mereka dapat meniti karier di kemudian hari. Kokkang memang tak pernah memberikan jaminan apa-apa kepada para anggotanya, karena Kokkang selama ini bertindak dan bergerak layaknya “de schooling society” bagi para anggotanya. Mereka bebas menentukan sikap sejauh mereka telah merasa mampu dan memiliki “sayap” untuk berkiprah lebih jauh di institusi luar Kokkang. Dari aspek ini, tidaklah mengecewakan. Sejumlah kartunis/karikaturis media ibukota, bahkan, merupakan figur-figur “lulusan” Kokkang. Sebutlah nama-nama, misalnya: M. Najib (freelancer untuk majalah Kicau Bintaro, Muba Randik, harian Seputar Indonesia dll.), M. Nasir (Tabloid Bola), Wawan Bastian (Tabloid Aura), Ifoed (Communicartoon Studio), Hertanto Soebijoto (Redaktur Harian Warta Kota), Qomar Sosa (Harian “Merdeka”), M. Tafin (Ilustrator di Harian Rakyat Merdeka), Tyud Tahyudin (Seputar Indonesia), Tyok (Harian Media Indonesia), Prie GS (Pemred Tabloid Cempaka Minggu Ini dan Motivator Pengambangan Diri), Djoko Soesilo (Harian Suara Merdeka), Wahyu Kokkang (grup Jawa Pos) dan masih banyak lagi lainnya.
Dari komonitas Kokkang yang ada di sanggar Kaliwungu, muncul nama-nama potensial seperti misalnya: M. Muslih (yang kini menjadi ketua teknis), Muchid R, Zaenal Abidin, M. Nazar, Wijanarko, Aziz, Qodri, Misri, Tevi dan banyak lagi lainnya yang tak dapat disebut satu persatu. Ini artinya, sebuah advantage, hadiah atau pengharapan di masa depan menjadi sesuatu yang penting bagi komunitas Kokkang. Mereka tak mungkin dibiarkan jalan di tempat dan tak jelas kelanjutannya. Lestarinya Kokkang, masuknya anggota baru dari kalangan muda yang jumlahnya mencapai puluhan, itu juga dipicu oleh advantage dan pengharapan tadi. Jadi melihat Kokkang sebagai sebuah fakta dan kasus yang ada di Kaliwungu saja, sangat tidak berimbang dan menafikan pemikiran-pemikiran yang melatarbelakangi strategi pengembangan kelompok tersebut. Dan itu bisa dilakukan dari mana saja, di luar Kaliwungu, sekalipun.
Dari diskusi-diskusi tidak resmi, didapat visi-misi anggota Kokkang yang selama ini masih dipendam dalam hati. Mereka mendambakan agar di masa depan (entah kapan) Kokkang dapat memiliki kantor sekretariat sendiri. Tidak terus-menerus menumpang orang lain. Sekretariat itu hendaknya memiliki ruang-ruang yang punya fungsi: administratif, dokumentatif, aktivitas kreatif, ajang pamer karya secara rutin dan ruang untuk kegiatan diskusi atau sejenisnya. Harapan di masa depan ini memang belum dapat diproyeksikan bingkai waktunya. Mereka menyadari, sebagai organisasi budaya, hingga kini memang total bergerak dari iuran sebagian honorarium kartun mereka yang dimuat di media cetak. Jadi secara bergurau mereka boleh nyeletuk, bahwa hingga detik ini mereka dari segi finance termasuk organisasi yang masih bersih dari kooptasi politik, LSM atau fund mana pun. Independen dan bersih itu, mengandung konsekuensi “kemiskinan” yang juga bersih. Artinya, meja kursi, milik organisasi pun mereka tak punya. Itulah Kokkang.
Bila menengok sejarahnya, organisasi sejenis Kokkang sebenarnya cukup banyak. Pada awal 80-an juga, muncul nama-nama seperti Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), Secac (Semarang Cartoon Club), Karung (Kartunis Bandung), Pokal (Padepokan Kartunis Tegal), Kelakar (Kelompok Kartunis Purwokerto), Ikan Asin (Ikatan Kartunis Banjarmasin), Terkatung (Terminal Kartunis Ungaran) dan lain-lainnya. Namun dalam rentang waktu yang dua dekade ini, tampak sebagian di antaranya yang masih bisa bergerak, sebagian yang lain masih merangkak, sebagian lagi yang tak jelas jejaknya. Itu semua sah-sah saja. Apakah paguyuban-paguyuban semacam itu hanya akan difungsikan sebagai mode pada periode waktu tertentu, atau disikapi dengan serius dan untuk jembatan aktualisasi diri, semua terpulang pada masing-masing kelompok dan individu. Tak terkecuali organisasi yang konon bertaraf nasional semacam Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia) pun, kini seperti menyelinap, menyembunyikan muka di sela hingar-bingar pekik eforia reformasi yang tak jelas ujungnya. Tak terlihat kontribusi Pakarti pada persoalan-persoalan mendasar negeri ini, misalnya masalah kebudayaan atau kesenian sekalipun; padahal bila dicermati negeri ini sudah berkembang menjadi sangat lucu; bukankah itu “makanan” empuk bagi komunitas karikaturis? Kelompok humoris? Apa yang terjadi sebenarnya dengan Pakarti?
Kokkang 26 tahun, mungkin masih ada sedikit harapan. Kendati organisasi, kelompok atau paguyuban apa pun tak lebih dari kurungan yang bila salah disikapi bisa membekukan penghuninya, namun tradisi berkesenian yang masih menjadi perekat bagi kelestarian semangat para anggota, hendaknya tetap terjaga sebagaimana awal mula kelompok tersebut didirikan. Pertanyaannya kemudian, bila lahan tempat eskpresi para kartunis, termasuk Kokkang makin sempit, lalu apa yang dilakukan mereka? Mungkinkah berkarya kartun, yang notabene adalah karya garfis tanpa harus tergantung pada media cetak? Pertanyaan ini memang pernah mengemuka dan mendatangkan sejumlah gagasan solusi; seperti misalnya melompat ke film animasi kartun, melukis dengan acuan bentuk dan isi yang serba kartunal/karikatural, mendesain kaos dengan total serba bergaya kartun, membuat ilustrasi bergaya kartun untuk buku; namun solusi ini tidak selalu mudah diaplikasikan karena peran pihak lain, pemodal, misalnya. Dan kini sedang dijajagi dengan adanya tawaran dan prospek yang ditiupkan oleh Museum Kartun Indonesia Bali. Mungkinkah tawaran dan prospek itu akan mampu menjawab sebagian dari cita-cita Kokkang? Waktu yang akan menjawabnya.
Sedangkan mengartun untuk konsumsi media massa, para kartunis sendiri sudah dengan sendirinya mampu dan tak menjumpai banyak kesulitan teknis. Modal alat yang dibutuhkan paling banter hanya tinta, water color, kertas, perangko untuk pengiriman dan sekadar buku-buku/koran/majalah untuk referensi. Tetapi, alam tampaknya selalu terkembang menjadi guru. Kendati secara faktual, media cetak di Indonesia selalu merupakan lahan subur bagi para kartunis, tak terhindarkan, pikiran mereka akhirnya mulai menengok ke beberapa lembaga penyelenggara lomba kartun internasional. Para penyelenggara itu ada di Jepang, Korea Selatan, Belgia, Turki, Italia dan lain-lain. Jumlahnya cukup banyak. Rutin tiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Hadiahnya pun tidak main-main. Ada yang berupa medali (emas), sepeda, namun tak kurang pula penyelenggara yang memberikan hadiah hingga 50 jutaan rupiah ke atas untuk kategori pemenang bergengsi. Dari 30 hingga 45 kartunis Kokkang potensial, paling tidak 30% di antaranya sudah pernah dan bahkan rutin menjadi pemenang lomba tingkat manca negara tersebut, kendati bukan kategori yang bergengsi.
Respon dan kritik tentang Kokkang datang silih berganti. Salah satu kritik yang paling mendapat perhatian adalah soal tema dan isi kartun yang digarap dengan teknis itu-itu saja dan ini banyak terlihat, termuat di berbagai media Indonesia. Ketika hal ini didiskusikan, terungkap bahwa hal itu terjadi lantaran, media cetak di Indonesia memang menghendaki corak kartun dengan teknis penggarapan sederhana dan ide-ide yang sederhana pula; artinya, mudah dimengeri pemirsa. Untuk karya-karya karikatur dan kartun bagi konsumsi advertising, misalnya, tentu saja memerlukan pendekatan dan penggarapan yang sangat berbeda, demikian konfirmasi anak-anak Kokkang. Di luar jawaban yang bernada apologis tersebut, sebagian anggota Kokkang yang lain juga menerima bahwa kritik itu tetap akan dijadikan cambuk dan masukan bagi semangat berkarya mereka. “Sebagian besar dari kami, belajar mengartun langsung dari teknik deformatif dan plethat-plethot semacam itu. Hampir jarang yang belajar dari teknik menggambar yang baku; misalnya dari pemahaman anatomi, proporsi, persepektif dan lain-lain. Wajar saja kan, bila pilihan ini mengandung konsekuensi…” ujar salah seorang anggota Kokkang.
Ya, 26 tahun lebih sekian bulan usia Kokkang. Seharusnya sudah punya tempat dan sekretariat, hasil dari kerja keras dan cucuran keringat!

Darminto M. Sudarmo, salah seorang pendiri Kokkang dan tulisan ini merupakan pendapat pribadi atau selaku pengamat humor Indonesia.

Wednesday, December 03, 2008

KOKKANG 26 Tahun, Tetap Mengartun Walaupun Obama Menang

APA relevansinya kegiatan mengartun anak-anak Kokkang dengan kemenangan Barack H. Obama? Sangat relevan! Obama menggambarkan kegigihan kandidat presiden Amerika yang sejak sekian tahun berjuang keras, praktis dari kondisi nol kilometer hingga mencapai sebuah kondisi yang sangat layak untuk memasuki kompetisi pada tingkat babak final dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Sebagai Presiden Amerika Serikat yang paling gress.
Lha, kelompok Kokkang? Walaupun ikut gembira menyaksikan kemenangan dan keberhasilan Obama, kelompok ini tidak mau ikut-ikutan larut dalam eforia berkepanjangan lalu lupa mengutamakan tugas utamanya: mengartun! Ya, menggambar kartun. Forever!
Karena pilihan dan fitrahnya memang sebagai kartunis. Meskipun di Irak masih banyak gejolak, di Afganistan ada ontran-ontran, di Pakistan banyak ledakan, itu semua tidak akan membuat semangat anak-anak Kokkang surut lalu jadi bingung dan tidak dapat melakukan apa-apa, tidak. Anak-anak atau para anggota Kokkang tetap tidak akan pernah lupa dari panggilan jiwanya: menggambar kartun!

Talkshow dan Bursa Kartun Kokkang
Dari tadi bicara soal Kokkang melulu, apa sih sebenarnya “makhluk” yang bernama Kokkang itu? Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu) yang didirikan sekitar tahun 1982 (sebenarnya didirikan tahun 1981, tetapi masih dalam tahap kasak-kusuk antara Odios dan Itos; deklarasi ditandai dengan pameran kartun berdua di pendapa Kawedanan Kaliwungu, tahun 1982), kali ini tidak hanya memamerkan karya-karya mereka berupa kartun, tetapi juga dalam bentuk yang lebih bervariasi. M. Syaifudin atau yang lebih dikenal sebagai Ifoed, salah seorang anggota KOKKANG, selepas bekerja dari Majalah HumOr lalu membentuk sebuah unit usaha yang berbasiskan kartun. Usahanya yang bernaung di bawah Communicartoon Studio kini bahkan tidak hanya berkiprah di bidang desain (periklanan/percetakan), ilustrasi buku dan benda-benda merchandise lain, tetapi juga telah merambah ke pembuatan film kartun animasi.
Sebelum Ifoed ada nama-nama seperti Didik Trisnadi yang bergerak di bidang perfilman; khususnya membuat film dokumenter dan iklan. Ada Joko Susilo yang membuat desain dan mencetak T-shirt. Dan saat ini, salah seorang yang paling bersemangat dalam pembuatan desain dan cetak T-shirt adalah Wijanarko.
Salah seorang yang sering menjadi pemenang lomba kartun yang sekaligus juga ilustrator banyak buku adalah Muchid Rahmat. Jadi tidak mustahil bila anggota generasi baru (1990-an hingga 2008) terdapat nama-nama yang karyanya tergolong kuat dan eksis seperti M. Najib, M. Nasir, Wawan Bastian, Muslih, Zaenal, Nazarudin, Asbahar, Tyud, M. Qomarudin, Wahyu Kokkang, Aziz dan banyak lagi lainnya, sangat punya andil besar dalam penciptaan atmosfir dan inspirasi bagi generasi sesudahnya.
Kelompok ini tidak hanya melahirkan kartunis kuat, tetapi juga ada yang jurnalis maupun birokrat. Seperti Odios, pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah HumOr; Hertanto Soebijoto, redaktur harian Warta Kota, Nurochim, bekerja di Majalah MOP, dan Prie GS sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Cempaka plus seorang motivator berspirit religiusitas. Sementara Itos, sebagai birokrat (terakhir Kepala Seksi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) Kab. Kendal; dan Totok Haryanto sebagai aparat desa serta aktif di komunitas semacam LSM Pemerintah. Uniknya lagi, ada juga dari anggota kelompok ini yang kemudian menemukan kenyamanan setelah menyeberang sebagai pelukis; seperti Asep Leoka, Syaiful Ashari dan beberapa yang lainnya.
Pada kesempatan yang khusus tersebut, diadakanlah “Talkshow dan Bursa Kartun Kokkang”. Tentang talkshow atau acara bincang-bincang santai, akan ditampilkan komunitas kartunis Kaliwungu sebagai narasumber. Bersama mereka kita akan dibawa masuk ke dunia kartun Indonesia dan fenomena-fenomena yang ada di dalamnya.

Latar Belakang dan Silsilah Lahirnya KOKKANG



MENURUT Odios, sampai dengan tahun 1979, di Kaliwungu atau bahkan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, hanya ada satu kartunis; yaitu dirinya. Sekian lama luntang-lantung mengartun sendirian, agak membuatnya sedikit bersalah; karena honor-honor yang masuk lewat kantor pos Kaliwungu hanya dia sendiri yang menikmati. Maka ketika pada tahun 1979-an, bulannya lupa, dia ketemu Itos di kampus IKIP Negeri Semarang dan terjadilah dialog yang intinya Itos pingin banget belajar dan bisa ngartun.
Liburan kuliah, Odios yang ada pekerjaan membuat desain motif batik “Joeni Batik” di Bogor menawari Itos ikut; karena di sana ada banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk berlatih menggambar kartun. Itos setuju. Sekitar 10 hari, Itos langsung berubah menjadi manusia baru! Dia langsung menjadi kartunis yang cerdas. Cerdas artinya langsung menemukan corak atau style tokoh yang mewakili dirinya dan ide-ide yang dibuatnya pun tergolong unik dan baru. Tidak tanggung-tanggung, dalam masa latihan di Bogor itu dia langsung dapat menciptakan kartun yang siap dikirim ke media sekitar 75 gambar.
Itu bagian yang sangat penting dari organisasi budaya yang bernama KOKKANG. Karena meskipun sempat beberapa lama mengalami pasang surut dalam berkarya, toh akhirnya wesel honorariun dari media Jakarta datang bertubi-tubi dan membuat Itos nyaris tak percaya, kalau dari corat-coret di kertas seperti itu dihargai cukup layak oleh media.
Maka setelah KOKKANG didirikan (1982) dan kedua kartunis ini mengadakan pameran kartun bersama di Pendapa Kawedanan Kaliwungu, sambutan masyarakat pun sungguh di luar dugaan. Anggota-anggota baru masuk berebutan. Hingga datang tahun 1988, saat yang tak dapat ditolah oleh Odios karena dia harus bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Urusan mengenai kelompok ini akhirnya diserahkan total kepada Itos. Dan di bawah pimpinan Itos yang kadang streng tetapi sesungguhnya baik, ada suasana pasang surut; tetapi akhirnya sejarah mencatat, bahwa KOKKANG toh pada akhirnya dapat survive hingga 26 tahun lebih.
Sungguh ini sebuah anugerah yang luar biasa. Kelompok ini tidak pernah puas sampai di sini; mereka tetap punya cita-cita; baik itu menyangkut visi individu maupun kelompok; cita-citanya adalah dapat hidup layak dari keahliannya. Itu mungkin terasa naif, tapi entah bercanda atau sungguh-sungguh, salah seorang dari mereka ada yang nyeletuk pingin jadi bupati. “Aneh, kan kalau ada bupati dari kartunis?” ujar si pemilik keinginan tersebut.